Menjelang Ramadhan berakhir adalah kebahagiaan dan sekaligus kesedihan seorang muslim, kebahagiaan karena telah melalui ramadhan dengan kegiatan ibadah yang dengannya ia berharap mendapat pahala dan pemgampunan dari Allah Ta’ala, sedangkan ia bersedih karena ramadhan bulan yang penuh berkah itu akan meninggalkan dirinya, selamat tinggal ramadhan bulan yang selalu dirindukan, Dengan hati yang tunduk maka ia pasrah dan menyiapkan dirinya menyambut datangnya hari raya ummat islam yaitu idhul fitri. Kepada seluruh rekan saya ucapkan taqabbalallahu minna wa minkum , semoga Allah Ta’ala menerima amalan kita semua. Amiin

Alhamdulillah kita kaum muslimin bisa menjumpai bulan Ramadhan yang penuh berkah, tentang keberkahan bulan ramadhan maka mari kita perhatikan untaian hadits berikut:

Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْتَقَى الْمِنْبَرَ فَقَالَ آمِيْنَ آمِيْنَ آمِيْنَ فَقِيْلَ لَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا فَقَالَ قَالَ لِيْ جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِيْنَ

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- naik ke atas mimbar seraya bersabda, “Amiin…amiin…amiin”. Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, engkau tidak pernah melakukan seperti ini”. Belaiu menjawab, “Jibril -alaihis salam- berkata kepadaku, “Semoga kecelakaan bagi seorang hamba yang didatangi oleh bulan Romadhon, namun tidak diberi ampunan”, maka saya pun berkata, “Amiin”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (3/192), Ahmad dalam Al-Musnad (2/246 & 254), dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan (4/204). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Adab Al-Mufrod (646)]

Jadi, seorang yang mau diampuni dosanya, harus menutupi dosanya dengan amal sholeh di bulan suci ini, seperti membaca Al-Qur’an, mendengarkan ceramah, puasa, dan sholat tarawih; bukan berhura-hura, dan menghabiskan waktu dalam perkara sia-sia, apalagi haram, seperti bermain kartu di bulan Romadhon, ludo, ular tangga, berdusta, berbicara tabu, berzina, dan lainnya.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena beriman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu” . [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1802), dan Muslim dalam Shohih-nya (175)

إِنَّ لِلَّهِ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيُسْتَجَابُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah pada setiap hari dan malam di bulan Romadhon memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka; sesungguhnya setiap muslim memiliki do’a yang ia berdo’a dengannya,lantaran itu do’anya dikabulkan”. [HR. Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3142), dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/254). Syaikh Ali bin Hasan Al-Atsariy men-shohih-kan hadits ini dalam Shifah Ash-Shoum (hal.24)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Jika malam pertama Romadhon datang, maka setan-setan, dan jin-jin durhaka dibelenggu; pintu-pintu neraka ditutup. Maka tak ada satu pintu(nya) pun yang terbuka; pintu-pintu surga dibuka. Maka tak ada suatu pintu pun yang ditutup; Seorang pemanggil memanggil,”Wahai pencari kebaikan, menghadaplah; wahai pencari kejelekan, berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang dimerdekakan dari neraka. Demikian itu pada setiap malam”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (682), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1642). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1960) ]

Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (7/310), “Makna hadits ini menurut saya –Cuma Allah yang lebih tahu-: Allah melindungi di dalamnya kaum muslimin, atau dominannya dari maksiat-maksiat. Jadi, setan tidak akan bebas datang kepada mereka sebagaimana mereka bebas datang di sepanjang tahun”.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy-rahimahullah- berkata, “Jika bulan Romadhon telah sempurna, maka sungguh puasa, dan sholat malam telah lengkap bagi orang beriman. Maka terjadilah baginya pengampunan dosanya yang lampau dengan sempurnanya dua sebab tersebut, yaitu puasa, dan sholat malamnya”. [Lihat Latho’if Al-Ma’arif (hal.232)]

[ Dikutip dari Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 32 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu]

Demikianlah keberkahan bulan Ramadhan yang sering kita baca atau kita dengarkan dari para da’i yang memberikan ceramah-ceramah tarwih, dari majlis-majlis ta’lim dan pengajian-pengajian yang membahas seputar bulan Ramadhan.

Saudaraku kaum muslimin, mungkin saja saat ini (terkhusus pembaca blog ini) ada yang baru mendapati bulan ramadhan dengan berpuasa tahun ini karena memang baru masuk usia baligh padanya, atau baru menyadari akan kewajiban puasa yang dibebankan kepadanya dan baru tergerak hatinya untuk berpuasa, maka inilah saatnya  berlomba melakukan amalan-amalan sholeh dibulan yang penuh berkah dan bertobat atas kelalaiannya di masa-masa lalu.

Saudaraku kaum muslimin, mungkin saja kebanyakan dari kita telah melalui  ramadhan demi ramadhan, 1 tahun , 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun ataupun 30 tahun lebih, maka marilah kita lihat apa yang telah kita lakukan ketika melewati masa-masa itu. Adakah tergerak hati kita untuk mendapatkan keberkahan bulan ramadhan, berupa pengampunan , pembebasan dari api neraka atau kita memasukinya hanya sebatas berpuasa , sebagai rutinitas tahunan . Kalau itu yang kita alami , maka perhatikanlah saudaraku……Betapa besar dan banyaknya keberkahan Ramadhan yang kita sia-siakan dan itu dari Allah Ta’ala yang menciptakan kita semua, Allah Ta’ala Maha Pengasih dan sangat mengasihi hamba-Nya dan Allah Ta’ala Maha Penyayang dan sangat menyayangi hamba-Nya , tidak ada yang melebihi kebesaran rasa kasih dan sayang Allah Ta’ala kepada kita semua. Diberikannya  bulan Ramadhan kepada kaum muslimin yang dengannya diharapkan kita semua berlomba-lomba melakukan amalan sholeh, mendapatkan pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Bukankah  kita selalu berdo’a untuk pengampunan dari dosa dan bebas dari api neraka ? Saudaraku  sampai kapan kita akan merasa hidup terus-menerus sehingga lupa suatu saat akan berjumpa dengan-Nya? Sampai kapan kita melalaikan kewajiban-kewajiban kita seakan-akan hidup ini hanyalah didunia saja sehingga lupa bahwa di alam akhirat telah menunggu pengadilan yang tidak ada seorangpun yang dizholimi, semua akan mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatannya di dunia, Saudaraku kita semua akan meninggalkan dunia ini sebagaimana orang-orang yang meninggalkan kita terlebih dahulu, Dialam sana orang yang berbuat baikpun akan menyesal kenapa tidak berbuat kebaikan yang lebih banyak lagi… bagaimana lagi dengan orang yang melakukan kejelekan demi kejelekan selama didunia…… pernahkah anda menyesal didunia ini? penyesalan kita didunia ini masih bisa dihibur dengan adanya harapan-harapan mendapatkan sesuatu yang lebih baik, akan tetapi penyesalan di alam akhirat sungguh penyesalan yang tiada bandingnya karena tidak adanya harapan mendapatkan yang lebih baik dari yang telah lewat, dia akan mendapat sesuai amalannya. Saudaraku hari demi hari berlalu, bulan demi bulan , tahun demi tahun lihatlah apa yang telah kita lakukan, marilah kita sambut ramadhan dengan amalan sholeh dan kita minta kepada Allah Ta’ala supaya menguatkan kita di bulan ini untuk banyak beribadah kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan . Nasehat ini untukku dan juga bagi saudaraku yang ingin melihat wajah Allah Ta’ala di akhirat nanti. Saya akhiri dengan perkataan Imam Ibnul Qoyyim.

Ibnul Qayyim berkata, “Orang-orang yang berakal sehat dari setiap umat telah bersepakat bahwa kenikmatan akhirat tidak akan dapat diraih dengan kenikmatan dunia, dan bahwa barangsiapa yang menginginkan untuk beristirahat di akhirat maka ia akan bekerja keras dunia karena seseorang akan mendapatkan kenikmatan akhirat sesuai dengan tenaga yang ia kerahkan di dunia untuk meraihnya.”

Lihatlah kaca itu, bening dan engkaupun bisa melihat benda-benda di belakangnya, ketika kaca itu dibiarkan beberapa hari tanpa ada yang membersihkannya, mengurusnya maka kaca itu pun akan buram, engkaupun tidak lagi melihat benda-benda dibelakangnya sejelas kali pertama engkau melihatnya. Demikianlah Hati manusia Ibarat sebuah kaca, ketika hati ini muncul pertama kali ya ketika kita dilahirkan hati ini fitrah tanpa noda, kemudian jam berganti jam , hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun banyak hal yang terjadi. Hati ini semakin diliputi noda, Sama halnya kaca semakin banyak noda di hati maka semakin banyak pula kebaikan yang tertutupi sehingga kita  tidak bisa kita melihat kebaikan-kebaikan. Walaupun kebaikan itu jelas seterang matahari namun jika hati ini gelap diliputi noda-noda maka engkau tidak akan melihatnya  sebagai kebaikan , lalu sampai kapan engkau membiarkan hatimu dipenuhi noda sementara maut terus memburumu, sementara engkau tahu bahwa Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan sangat mencintaimu lalu engkau malah lari dariNya, kebaikan mana yang lebih baik dari kebaikanNya, kasih sayang mana yang lebih baik dari kasih sayangNya… Ya Allah Ampunilah … ampunilah hambamu …, aku ingin surgaMu, masukkanlah aku ke dalamnya, Amiin ya mujibassaaailiin.

Segala puji bagi Allah Ta’ala, masih diberinya kesempatan kepadaku untuk melakukan puasa,harapanku ibadahku lebih baik dibanding waktu-waktu yang lalu dan mendapat pengampunan Allah Ta’ala.

Ingin kukisahkan disini suatu percakapan singkat anak-anak yang berumur sekitar 4-5 tahun. Saya sekarang Alhamdulillah tinggal dilingkungan pesantren di daerah Gowa. Beberapa rumah disana ada yang lumayan cantik dan beringkat, disamping itu ada yang masih berupa rumah dengan berdinding kayu yang kelihatan sudah tua. Depan rumah sekitar 50 meter dari rumah yang kutempati tinggal sebuah keluarga dengan keadaan yang sangat tidak memadai untuk dihuni 7 orang yang sebagian besarnya masih anak-anak.

Awal ramadhan lepas sholat maghrib sayapun pulang. Ditengah jalan saya mendengarkan percakapan antara anak dari tetangga saya dengan 2 anak lainnya umur mereka sebaya sekitar 4-6 tahun, mereka berbincang mengenai makanan buka puasa, berikut beberapa percakapan mereka (isi percakapan saya ubah sedikit tapi intinya sama) :

anak 1 : enaknya kuenya, ada pisang gorengku juga

anak 2 : dirumahku ada juga kue, enakki

anak tetanggaku : ada juga  es buahku dibawa sama umminya fulanah, ada juga kue diberi sama fulan dan fulanah

anak 1: kau banyak dikasi karena orang miskinko (kamu orang miskin)

(apa jawaban anak tetanggaku) inilah dia yang buat saya berpikir tentang sesuatu , jawabannya adalah

anak tetanggaku berkata:” biarmi ( tidak apa-apa / biar saja) saya miskin , kalau di akhirat orang kaya akan lama masuk surga, kalau orang miskin cepatki (cepat masuk surga)…..” anak ini punya jawaban , sekalipun kemungkinan besar ia belum mengethui apa yang ia katakan , maklum masih anak-anak. Inilah jawaban yang saya jadikan judul kali ini.

Tetanggaku itu mudah-mudahan Allah Ta’ala memberkahinya, punya seorang istri dengan 5 orang anak yang masih kecil-kecil. Rumahnya  sempit, pintu rumahnya terdiri hanya dari bingkai tripleks yang disandarkan begitu saja, dia harus ke makassar untuk mencari nafkah sehingga pulang hanya sekali sepekan. Namun dari Jawaban anak tadi membuktikan bahwa dia membekali anaknya dengan kesyukuran sehingga tidak rendah diri dihadapan manusia dan mengharapkan suatu janji dari Allah Ta’ala bagi orang yang beriman sekalipun di dunia dia tidak memiliki apa-apa.

Anak kecil itu memang belum mengerti apa-apa tentang apa yang dia katakan, tapi sebagai nasehat bagi kita semua bahwa “Kekayaan tidak bisa dibanggakan di akhirat kalau tidak digunakan sebaik-baiknya dijalan Allah Ta’ala, sebaliknya orang miskin jika dia beriman dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala dalam kemiskinannya didunia maka cukuplah hadits berikut yang akan menghiburnya dan menjadi kebanggaannya di akhirat  ”
“Orang – orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang –orang kaya” (HR. Tirmidzi, dia berkata, “Hadits shahih”, dari Abu Hurairah ra.)

hadits lainnya menunjukkan kebanyakan penghuni surga adalah orang miskin sebagaimana ucapan Nabi SAW. dari Usamah bin Zaid ra.,

“Qumtu ‘alaa baabil jannati faidzan ‘aammatu man dakhalahaal masaakiinu” yang artinya “Aku pernah berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan orang – orang yang masuk kedalamnya adalah orang – orang miskin” (HR. Bukhari – Muslim

Mungkin anda beranggapan karena memang Jumlah Orang miskin memang lebih banyak daripada jumlah orang kaya didunia ini jadi wajar saja penghuni surga lebih banyak yang miskin. Toh kalaupun anda berpikir begitu dan dengan nikmat Allah Ta’ala anda memiliki kekayaan yang lebih, maka persiapkan diri anda untuk menjadi orang kaya yang menjadi penghuni surga.

Semoga Allah Ta’ala mengampuniku dan anda sekalian dalam kesalahan dan dosa yang kita lakukan serta menunjukkan kepada kita jalan kebaikan yang mengantarkan ke jalan SurgaNya. Amiin

Mungkin semua manusia menginginkan memiliki harta yang banyak, berlimpah yang dengan harta itu apa yang ingin dia peroleh dia dapatkan. Marilah kita tengok apa yang dapat diperoleh dengan harta.

Jika diinginkan oleh pemilik harta itu dalam bentuk fisik seperti ingin mempunyai rumah mewah lengkap dengan mobil, kolam renang, taman yang indah nan sejuk dipandang bisakah ia mendapatkannya ? jawabnya ya , sebab kita berbicara tentang pemilik harta yang luar biasa hartanya..

Baiklah anggaplah ia telah memiliki semua keinginannya termasuk bepergian kemanapun ia suka. Senangkah ia? Bahagiakah ia ?  mari kita lihat ….

Ketika ia belum mempunyai mobil dan mempunyai uang untuk membeli mobil senangkah ia? Betul tentu sangat senang, maka ia pun membeli mobil. Saat mobil tiba ia sangat senang, bahagia sekali tentu saja. Namun sampai kapan ia merasakan kebahagiaan seperti itu ? Hari-hari pertama terasa senangnya ia memiliki mobil seperti mau keliling kota seharian namun apa yang terjadi selanjutnya? selanjutnya beberapa bulan ataukah beberapa hari kemudian ia akan merasa seperti biasa-biasa saja bahkan ia merasa ada kekurangan yang ada pada mobilnya itu …demikian seterusnya.  Kesenangan dan kebahagiaan itu datang dan pergi , kita sadari atau tidak. (lebih…)

Kemudahan yang diperoleh dalam kehidupan adalah dambaan manusia, kesulitan adalah hal yang tidak ingin dijumpai. Memiliki kekayaan lebih disenangi jiwa-jiwa dibandingkan kemiskinan. Dia merasa dimuliakan Tuhannya ketika rizqinya berjalan terus, kekayaan bertambah dan kemudahan-kemudahan lainya, sebaliknya ia merasakan kehinaan dan dihinakan Tuhannya ketika rizqinya dibatasi dan kesulitan-kesulitan menimpa dirinya , perhatikan firman Allah Ta’ala : (lebih…)

Bismillah.
Segala puji bagi Allah Ta’ala dan shalawat , salam semoga senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Sangat disayangkan, MUI yang diharapkan memandu kaum muslimin Indonesia kejalan Allah Ta’ala dan RasulNya justru mengeluarkan fatwa yang ganjil dan aneh dan mendasari fatwanya dengan dasar yang tidak sesuai.

MUI mengharamkan rokok dengan beberapa kategori , haram untuk anak-anak, haram untuk ibu hamil …dst, padahal Hukum haram dengan beberapa kategori tidak dikenal dalam islam dari zaman dahulu orang-orang terbaik ummat ini sampai kurun waktu sekarang, jika ia haram maka haramlah bagi keseluruhannya, apakah ia bayi ataupun tua renta, sembunyi ataupun terang-terangan diperkecualikan dalam keadaan darurat ( yakni jika tidak mengkonsumsi makanan/minuman/obat tersebut maka akan mengakibatkan kematian padanya, MUI tentunya harus lebih tahu dan paham tentang makna darurat dalam hal ini ) . Makanya tidak terdapat dalam kitab-kitab para Ulama Rabbani yang memuat adanya haram berkategori.
Takutlah kepada Allah Ta’ala … jangan menukar rasa takutmu dengan takut kepada manusia lebih besar dibanding ketakutanmu kepada Allah Ta’ala , jangan tukar akhiratmu yang kekal dengan dunia yang fana . Fatwa Ulama Tentang Rokok

Berikutnya MUI berfatwa golput haram, ketahuilah bahwa pemerintah dita’ati jika mengikuti Allah dan RasulNya makanya bunyi Ayat itu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ

Athi’ullaha, wa athi’urrasul wa ulil amri minkum bukannya Athi’ullaha wa athi’urrasul wa athi’u ulil amri minkum karena ketaatan kepada pemerintah terikut kepada ketaatannya kepada Allah Ta’ala dan RasulNya karena tidak ada ketaatan kepada siapapun dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Jika pemerintah memerintahkan kita yang tidak ada pelanggaran syari’at didalamnya maka kita wajib mengikuti, sebaliknya jika perintahnya itu mengandung pelanggaran kepada Allah Ta’ala dan RasulNya maka tidak ada kewajiban untuk menaatinya.Yang ngerti bahasa Arab bisa lihat tafsir Assa’diy , tafsir Ath-Thabary. Kalau anda mau jeli maka lihatlah Substansi Pemilu itu sendiri. Apakah (lebih…)