(Q.S. Ash-Shaffaat : 39-68)

39. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang Telah kamu kerjakan,

40. Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

Sebagian kenikmatan Surga

41. Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu,

42. Yaitu buah-buahan. dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,

43. Di dalam syurga-syurga yang penuh nikmat.

44. Di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.

45. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.

46. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.

47. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.

48. Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,

49. Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.

50. Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.

51. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya Aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,

52. Yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?

53. Apakah bila kita Telah mati dan kita Telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah Sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

54. Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”

55. Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.

56. Ia Berkata (pula): “Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,

57. Jikalau tidaklah Karena nikmat Tuhanku Pastilah Aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

58. Maka apakah kita tidak akan mati?,

59. Melainkan Hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?

60. Sesungguhnya Ini benar-benar kemenangan yang besar.

61. Untuk kemenangan serupa Ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

62. (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum[1277].

Sebagian Kesengsaraan di Neraka

63. Sesungguhnya kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.

64. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.

65. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.

66. Maka Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, Maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.

67. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.

68. Kemudian Sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.

[1277] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka.

Demikianlah Allah Ta’ala menerangkan keadaan penghuni surga dan neraka, maka barang siapa yang beriman terhadap hari berbangkit, tentang adanya hari pembalasan terhadap segala amal perbuatan manusia, maka hendaklah menyiapkan bekal untuk itu. Apa yang dikisahkan Allah Ta’ala diatas pasti terjadi , ia bukanlah fiksi atau cerita dongeng belaka , adakah yang meragukannya ? kisah diatas tertulis dalam Al-Qur’an adakah yang meragukan ? adakah yang samar dari keterangan diatas ? wahai hati yang dipenuhi oleh segala keinginan dunia , tidakkah engkau meminta dirimu untuk menangis bahwa bekalmu diakhirat belum kamu kumpulkan, apakah engkau melihat saudaramu telah ada yang menaiki tunggangannya dan mengikat tali bekalnya untuk mengumpulkan bekal ataukah engkau tidak melihatnya ? tidakkah engkau juga mengetahui saudaramu yang lain telah pergi dengan membawa bekalnya masing-masing ? ataukah memang engkau tidak peduli dengan kepergian mereka ? tidak menanyakan kenapa mereka pergi ? mereka pergi karena mengetahui adanya tempat yang lebih baik dari tempat yang kamu pijak , mereka tahu rintangan akan menghadang di perjalanan mereka tapi satu yang mereka yakini yaitu sekalipun mereka tertimpa kematian ditengah perjalanan mereka karena beratnya rintangan diperjalanan, mereka yakin akan sampai ke tempat tujuan mereka karena itu adalah janji Penguasa tempat yang mereka tuju . Penguasa Negeri Akhirat. Apakah belum sampai kabar ini kepadamu ?

Bulan Ramadhan tidak terasa akan pergi meninggalkan kita, Allah Ta’ala berfirman tentang bulan ini

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185)

Pada bulan Ramadhan ini pula banyak kaum muslimin giat mengkhatam Al-Qur’an. Ini adalah suatu berkah dan pahala yang besar bagi pembacanya. Namun sangat disayangkan ketika Ramadhan ini pergi kegiatan khatam Qur’an ini menghilang di sebagian kaum muslimin yang pada waktu Ramadhan giat membacanya…terlebih bagi kaum muslimin yang memang tidak membacanya dibulan ramadhan walau selembar… 1/2 lembar ataupun sebaris dari ayat-ayat suci Al-Qur’an . Padahal telah jelas dalam firman Allah diatas bagaimana Al Qur’an ini menjadi petunjuk dan pembeda antara yang haq dan batil.

Di ayat lainnya Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا (54

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (Al Kahfi: 54)

Allah Ta’ala telah memberikan bermacam-macam perumpamaan dengan kata lain Allah Ta’ala telah menjelaskan banyak jalan menuai ilmu yang bermanfaat, dimana ada jalan kehancuran dan kesesatan, jalan yang boleh dilalui dan tidak, halal dan haram, ketenangan dan cahaya, tapi bersamaan dengan itu kebanyakan manusia banyak yang membantah bahkan mereka membantah tanpa ilmu. Mereka mendholimi diri-diri mereka.

Dan simaklah firman Allah Ta’ala berikut sebagai kelanjutan dari ayat diatas :

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلا (55)

Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya adzab atas mereka dengan nyata.

apakah ini yang ada pada diri kita sekarang ini ? kita menunggu datangnya adzab Allah Ta’ala baru mau sadar dan Ta’at …. terlambat saudaraku … terlambat jika adzab itu sudah menimpa kita dan kita tidak diberi kesempatan kali kedua untuk melakukan kebaikan.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا (57)

Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya,

Apakah kita ingin seperti orang orang yang dibutakan hatinya disumbat telinganya karena seringnya kita berpaling dari perintah-perintah Allah? kalau demikian celakalah kita karena setelah itu tertutuplah pintu untuk mendapat petunjuk selama-lamanya ya selama lamanya

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلا (58)

Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengadzab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan adzab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat adzab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripadanya.

(QS. Al-Kahfi 55,57-58)

Demikianlah kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita, sekalipun kita bermaksiat padanya masih diberi kesempatan … jika kesempatan kita lalaikan maka sesal kemudian tak berguna dihari tak ada perlindungan selain perlindungan ALLah Ta’ala.

Demikianlah Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang menerangkan peringatan dan anjuran berbuat kebaikan, maka bagaimana kita bisa mengetahui apa yang terkandung dalam Al-Qur’an jika kita tak pernah membacanya , jika kita belum tahu membaca Al-Qur’an maka belajarlah…demi masa depan kita …masa depan yang keindahannya belum pernah terbersit dalam hati manusia … marilah kita meraihnya.

Ramadhan akan meninggalkan kita , ia yang kita rindukan jangan biarkan pergi tanpa kesan kebaikan … kebaikan yang akan kita teruskan setelah kepergiannya …

Jum’at tertanggal 12 september 2008 saya menghadiri sholat jum’at dengan materi khutbah adalah masalah kematian.

Dia sang khotib benar bahwa kematian itu pasti akan datang pada tiap-tiap makhluk dari kalangan jin dan manusia , hewan dan semua makhluq lainnya dan ini juga telah kita ketahui akan kebenarannya baik pembaca sebagai orang awam terlebih lagi bagi orang yang berilmu, bahkan syetan dan balatentaranya mengetahuinya dengan pasti.

Dan sang khotib benar bahwa tidak ada yang mengetahui dimana dan kapan dia akan meninggalkan dunia ini.

Dia sang khotib benar bahwa hendaknya setiap orang mengingat-ingat akan kematian ini walaupun mungkin ada sebagian pembaca yang enggan mengingatnya.

Dan sang khotib benar bahwa dunia ini pasti akan ditinggalkan dan tujuan selanjutnya adalah akhirat sebagai kehidupan yang kekal tidak akan ditinggalkan lagi, sekalipun sebagian pembaca mungkin tidak mengakui hari akhirat akan tetapi sungguh tidak ada kerugian bagi orang yang mengakui akan adanya hari (lagi…)

Dikirim oleh webmaster, Senin 08 September 2008, kategori Fiqh
Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc
.: :.

Ramadhan bulan penuh berkah, rahmat, dan keutamaan adalah kesempatan emas bagi setiap muslim yang mendambakan ampunan Allah dan surga-Nya, yang mengharap jauhnya diri dari murka Allah dan siksaNya. Merupakan karunia Allah pada kita ketika Allah panjangkan umur kita sampai pada bulan mulia ini, karena dengan itu berarti Allah memberikan kepada kita peluang besar untuk menggapai maghfirah (ampunan) dan surga-Nya. Serta peluang bagi kita untuk berusaha menyelamatkan kita dari neraka-Nya, dimana pada bulan ini di setiap malamnya Allah membebaskan sekian banyak orang yang mestinya menghuni neraka. (lagi…)

Walaupun terlambat tapi tak apa-apakan ? … Mudah-mudahan puasa kita di bulan Ramadhan kali ini lebih baik dari puasa dibulan ramadhan sebelumnya . Amiin

Rekaman daurah Asatidzah & Ulama tanggal 2 – 3 Agustus 2008:

1. Al Ustadz Khidir (Makassar), sesi I tanggal 2 Agustus 2008 http://www.salafishare.com/19ZXEI1WZRM2/N0L1YBU.rar
2. Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al Bukhari, Sesi II tanggal 2 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19019Y6B1176/8169S7Z.rar
3. Al Ustadz Khidir (Makassar), sesi III tanggal 2 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19XO5HNEUAHQ/608BSKP.rar
4. Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al Bukhari, sesi IV tanggal 2 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19FOSZJUA78S/OUPOSYV.rar
5. Al Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc (Kebumen), sesi I tanggal 3 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19FCF5E2IPU3/ZNKR7GX.zip
http://www.salafishare.com/19U4MDNAIV44/UANTH0Q.rar
6. Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al Bukhari, sesi II tanggal 3 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19L70HLMMD0W/09VY08N.rar
7. Al Ustadz Muhammad Afifuddin, sesi III tanggal 3 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19BZJ0MPLSI6/UZQGJFC.rar
8. Asy Syaikh Dr. Khalid azh-Zhafiri, sesi IV tanggal 3 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/191BMY8M8S70/4E17S5U.rar
9. Al Ustadz Muhammad Afifuddin, sesi I tanggal 4 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/id/199X68K4VL3L/010-04-Ust.Afifuddin.mp3
10. Asy Syaikh Dr. Khalid azh-Zhafiri, sesi II tanggal 4 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19SSGY0U1L7I/XHE5T7N.rar
11. Asy Syaikh Abdullah bin Shalfiq, sesi III tanggal 4 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19LA07GMOLUR/U6ZURU6.rar
12. Asy Syaikh Abdullah bin Shalfiq, sesi IV tanggal 4 Agustus 2008
http://www.salafishare.com/19ECDDOF8T4R/NEKLG88.rar
sumber : www.salafy.or.id

Ini adalah kisah nyata dari sebuah keluarga yang dahulunya mempunyai banyak harta….

Ringkasnya setiap orang yang datang kepadanya hendak meminjam uang maka ia selalu mengatakan saya lagi tidak punya uang (atau semakna dengan itu) padahal ia punya uang itu walaupun mungkin untuk hal-hal lainnya, maka suatu ketika pada suatu acara perjamuan yang dihadiri oleh rekan-rekan sekerjanya dahulu (saat ini dia sudah pensiun) hanya dia yang tidak mengendarai mobil pribadi… rekan-rekannya bertanya, kenapa ? , sekali lagi ia mengatakan ia tidak mempunyai uang , namun perkataannya yang terakhir ini betul-betul benar ….karena ia sudah bangkrut , ia bercerita buka usaha sering ditipu orang lain …. sampai-sampai mobilnya pun terjual …. so aq jadi berpikir , terus orang yang bercerita itupun berkata… makanya kalau bicara yang JUJUR jangan punya uang bilangnya saya lagi tidak punya uang ………, bagaimana dengan anda ?

Dalam Download telah ada materi tentang tata cara sholat disertai dengan dalil-dalilnya dan juga  koreksi terhadap orang-orang yang melakukan sholat yang tidak mengikuti sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Mudah-Mudahan bermanfaat.

Nah, pada Download sudah ada Ta’lim mengenai makna syahadatain dan penjelasan tentang oorang-orang yang masuk surga tanpa adzab dan hisab, eilahkan menyimak yah …

Banyak diantara agama, dan sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan).
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]

Semua ini disebabkan karena kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap agamanya dan sunnah Rasul-Nya-shollallahu alaihi wasallam-. Kurangnya perhatian mereka menuntut ilmu syar’i karena kesibukan duniawi yang memalingkan mereka. Sementara mereka tak ada perhatian lagi dengan majelis ilmu dan majelis ta’lim. Akibatnya, agama dan Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- terasa asing dan aneh di sisi mereka.

Memang mereka terkadang mendatangi majelis ta’lim. Namun jika mereka hadir, nampak pada wajah

(lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »