Kemudahan yang diperoleh dalam kehidupan adalah dambaan manusia, kesulitan adalah hal yang tidak ingin dijumpai. Memiliki kekayaan lebih disenangi jiwa-jiwa dibandingkan kemiskinan. Dia merasa dimuliakan Tuhannya ketika rizqinya berjalan terus, kekayaan bertambah dan kemudahan-kemudahan lainya, sebaliknya ia merasakan kehinaan dan dihinakan Tuhannya ketika rizqinya dibatasi dan kesulitan-kesulitan menimpa dirinya , perhatikan firman Allah Ta’ala :
فَأَمَّا الإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (Q.S. Fajr 15-16)
Perhatikanlah baik-baik firman Allah Ta’ala diatas. Allah Ta’ala memberikan kemuliaan, kesenangan tapi dibalik itu Allah Ta’ala menggandengkan dengan kata “mengujinya”, demikian pula ketika Allah Ta’ala membatasi rizqinya juga digandengkan dengan kata “mengujinya”. Jadi jelas sekali bahwa kesenangan dan kesulitan adalah merupakan ujian Allah Ta’ala. Orang yang mendapatkan kekayaan dan kesenangan lalu merasa Allah Ta’ala telah memuliakannya maka orang ini tertipu dengan dirinya sendiri, sebab dengan begitu ia tidak akan mempersiapkan dirinya menghadapi ujian Allah Ta’ala dan bagaimana pendapat anda tentang orang yang akan menghadapi ujian dan dirinya tidak mempersiapkan diri ? demikian pula orang yang ditimpa kesusahan dibatasi rizqinya oleh Allah Ta’ala lalu ia merasa dihinakan Allah Ta’ala , merasa tidak diperhatikan Allah Ta’ala inipun adalah orang yang tertipu dengan dirinya sehingga tidak mempersiapkan dirinya untuk lulus dari ujian Allah Ta’ala.
Adapun jawaban dari semua itu adalah dari Hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam :
‘Sungguh mengagumkan keadaan orang beriman, ketika ia diberi nikmat maka ia bersyukur dan ketika ia ditimpa musibah maka ia bersabar. “
Inilah Jawaban dari perkara diatas. Jika ia orang beriman maka ketika ia diberi nikmat oleh Allah Ta’ala maka ia bersyukur kepadaNya. Tidak sekedar ucapan sebab kesyukuran itu menuntut amalan sholeh yang merupakan wujud kesyukuran.
Kemudian jika orang beriman menghadapi kesulitan maka ia bersabar, sabar juga bukan sekedar ucapan tapi dengan amalan sholeh, meningkatkan pengharapan dan rasa takut kepada Allah Ta’ala yang bisa mendorongnya untuk melakukan amalan-amalan sholeh.
April 17, 2009 at 10:07 am
assalamualaikum,,,,,,,,,,,,,,maka dari itu mari kt banyak2 berdoa supaya menjadi manusia yang pandai bersyukur,,,,,,,,,,,Amin