Sebelum membahas mengenai RUU Pornografi ada baiknya kita membaca firman Allah Ta’ala berikut :

َاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُون

Dan Ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S. Al-Hujurat : 7)

Diantara para shahabat Rasulullah ada yang melihat bagaimana ibadah-ibadah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik ia berkata, ”Datanglah tiga golongan yang mendatangi rumah isteri-isteri Rasulullah secara diam-diam dan menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberikan lalu mereka membicarakannya dan berkata di mana posisi kita dibanding dengan Rasulullah padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Salah satu di antara mereka berkata,”Saya akan selalu shalat malam terus menerus.”Yang lain berkata,”Saya akan berpuasa terus menerus sepanjang tahun.”dan yang lain lagi berkata,”Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya berkata, ”Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Ketahuilah demi Allah sesungguhnya sayalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepadaNya tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur serta menikah wanita..!. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan golonganku”.

Sekiranya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan mereka tentu mereka akan mendapatkan kesusahan dalam melaksanakan apa yang mereka inginkan. Dan para shahabatpun tidak merasa berat dengan ini. Kenapa demikian ? jawabannya ada pada ayat diatas, Allah ta’ala telah menjadikan mereka cinta keimanan dan keimanan itupun menjadi indah dalam hati-hati mereka sekalipun Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam berucap dengan ucapan yang keras ”barang siapa yang benci sunnahku bukan goglonganku” , namun mereka ridha dengan ketetapan itu , sekalipun apa yang mereka inginkan adalah kebaikan.

Kita tengoklah keadaan kita sekarang, ambil contoh permasalahan yang lagi hangat-hangatnya RUU Pornografi, dalam tinjauan apapun isinya adalah anjuran kebaikan untuk kemaslahatan bersama. Namun untuk mengesahkannya butuh waktu lama (sampai bertahun-tahun ???}. Di sisi lain fenomena penolakanpun bermunculan di TV dengan alasan kebebasan ekspresi, kebebasan pribadi dan sejenisnya. Mereka secara sadar atapun tidak telah menjadikan kebebasan ini sebagai agama, sementara agama hanyalah sebagai penghias bibir semata, agama tidak boleh mengatur mereka. Mereka tidak cinta kepada keimanan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang agama mereka,, sehingga keimanan itupun tidak indah dihati-hati mereka, mereka berat menerima RUU Pornografi karena didalamnya akan banyak aturan-aturan yang melarang agama kebebasan ekspresi, agama kebebasan pribadi dan yang semisal dengannya.

Mereka mengatakan, biarlah urusan kami dengan Allah Ta’ala saja tidak perlu aturan-aturan itu, urus saja yang lainnya yang lebih mendesak, rakyat kelaparan, korupsi, banjir dan seabrek permasalahan negara yang mereka utarakan. Lupakah mereka ? ataukah mereka tidak tahu ? ataukah pura-pura tidak tahu ? bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di Hadapan Allah Ta’ala, seseorang akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap apa yang dia lakukan, keluarga yang dipimpinnya, dan untuk pemerintah akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyat yang dipimpinnya. Seorang rakyat boleh saja seenak perutnya mengatakan ” masalah saya berpakaian itu urusan saya dengan Allah Ta’ala saja, saya mau pakai bikini, mau pakai baju super ketat dijalanan itu urusan saya dengan Allah Ta’ala” , akan tetapi Penguasa atau pemerintah dan jajarannya akan ditanya mengenai kepemimpinannya , mengapa mereka membiarkan rakyatnya melakukan kemungkaran, kemaksiatan dan pelanggaran terhadapNya. Coba renungkan baik-baik, bukankah seorang kepala sekolah akan disalahkan jika membiarkan siswanya melakukan kejelekan yang akan merugikan dirinya, pertanyaan …apakah siswa itu tahu bahwa itu akan merusak dirinya dan temannya ataupun keluarganya? Jawabannya adalah boleh jadi dia tahu ataupun tidak tahu …tidak ada jawaban lainnya. Apapun jawabannya toh kepala sekolah harus tetap melakukan teguran dan teguran sampai kepada suatu hukuman yang harus dijatuhkan padanya jika siswa tersebut tidak patuh agar orang lain tidak kena dampaknya langsung ataupun tidak langsung.

Nah kembali kepada pokok masalahnya…bagaimana pikiran anda terhadap mereka yang berpikiran seorang penguasa tidak perlu ikut campur terhadap masalah berpakaian mereka, goyang seksi mereka ? Padahal Penguasa/Pemerintah mengetahui akan tanggungjawabnya untuk kebaikan rakyatnya secara umum {sebab tentu saja orang yang mengetahui lebih didahulukan daripada orang yang tidak mengetahui}, orang yang mengetahui kebaikan akan sesuatu lebih didahulukan daripada orang yang tidak mengetahui kebaikan sesuatu itu. Salahkah pemerintah dan jajarannya jika mencari keselamatan dirinya dihadapan Allah Ta’ala dengan menetapkan aturan untuk keselamatan rakyatnya… keselamatan dunia dan akhirat rakyatnya ? mereka para perempuan yang menolaknya tak perlu marah dengan alasan merendahkan martabat wanita, karena tanpa RUU pornografipun mereka telah merendahkan diri mereka, lihatlah bagaimana perbedaan yang jelas antara orang-orang yang dihiasi keindahan dalam imannya dengan mereka-mereka ini.

Orang-orang yang menolak RUU Pornografi notabene adalah orang-orang yang senang dengan porno dan memperagakannya baik yang porno sedikit ataupun porno banyak, korbannya sudah jelas adalah laki-laki karena yang menyukai pakaian dan goyangan pornoaksi mereka laki-laki. Mereka ini membantu syetan untuk menggoda iman seorang laki-laki untuk menontonnya. Jelas ini adalah pelanggaran terhadap tuntunan Agama. Mereka secara tidak langsung melakukan kerusakan , adakah yang mengatakan yang mereka lakukan itu adalah kebaikan ? tunjukkan dimana kebaikannya !!!

Lalu datanglah RUU Pornografi yang sudah sekian lama diproses ndak sah-sah juga karena mengikuti segelintir orang yang memang akalnya sudah rusak. Tidak bisa membedakan mana masalah Budaya, Sosial, Suku, Seni dan apa yang diaturnya dan mana mana masalah Agama. Mereka menolaknya padahal jelas-jelas pornografi dan pornoaksi merusak moral anak-anak bangsa, hilang rasa malu mereka padahal malu adalah sebagian dari keimanan. Sungguh negara kita tercinta ini tidak boleh dipisahkan antara urusan negara dan Agama karena penduduk Indonesia beragama semua, mulai dari pimpinan tertinggi sampai rakyat jelata dan mereka mempunyai kewajiban kepada Sang Maha Pencipta Maha Pengatur.

Islam mengatur bagaimana perilaku kaum muslimin yang baik yang diridhoi Allah Ta’ala, maka seharusnyalah mereka mau manaati apa yang telah ditetapkan Tuhan mereka demi kebaikan mereka. Sekiranya mereka rajin dan tekun membaca Al-Qur’an dengan seksama tentu mereka akan dapati hal ini. Wahai jiwa dimanakah Al-Qur’an ini kamu simpan ? Tidakkah engkau tahu Al-Qur’an ini diturunkan selama masa 23 tahun untukmu ? lalu engkau sia-siakan , wahai jiwa engkau tahu Al-Qur’an ini untukmu, maka ingatlah engkau tidak punya alasan dihadapan Allah … engkau tidak punya alasan dihadapan Allah Ta’ala.