Jum’at tertanggal 12 september 2008 saya menghadiri sholat jum’at dengan materi khutbah adalah masalah kematian.

Dia sang khotib benar bahwa kematian itu pasti akan datang pada tiap-tiap makhluk dari kalangan jin dan manusia , hewan dan semua makhluq lainnya dan ini juga telah kita ketahui akan kebenarannya baik pembaca sebagai orang awam terlebih lagi bagi orang yang berilmu, bahkan syetan dan balatentaranya mengetahuinya dengan pasti.

Dan sang khotib benar bahwa tidak ada yang mengetahui dimana dan kapan dia akan meninggalkan dunia ini.

Dia sang khotib benar bahwa hendaknya setiap orang mengingat-ingat akan kematian ini walaupun mungkin ada sebagian pembaca yang enggan mengingatnya.

Dan sang khotib benar bahwa dunia ini pasti akan ditinggalkan dan tujuan selanjutnya adalah akhirat sebagai kehidupan yang kekal tidak akan ditinggalkan lagi, sekalipun sebagian pembaca mungkin tidak mengakui hari akhirat akan tetapi sungguh tidak ada kerugian bagi orang yang mengakui akan adanya hari akhirat sehingga ia mempersiapkan dirinya untuk menyiapkan bekalnya, dan iman kepada hal ini adalah termasuk rukun iman ummat Islam. Jika anda seorang muslim apa alasan anda untuk tidak mengakuinya ? Dan sang khotib benar bahwa mengingat kematian tidaklah memberi faedah jika tidak ditindaklanjuti dengan menyiapkan bekal sebelum datangnya kematian , karena sebelum datangnya kematian adalah waktu untuk beramal dan setelah kematian adalah waktu untuk perhitungan dan mengingat kematian bertujuan akar kita bisa menyiapkan bekal sebelum datangnya kematian.

Dan Al-Qur’an mengisahkan akan keinginan dan permintaan orang-orang yang dahulunya tidak melakukan amal shaleh ketika didunia yaitu untuk mengembalikan mereka agar bisa melakukan amal shaleh didunia … dan inilah permintaan mereka … mereka tidak meminta kembali ke dunia untuk mengejar harta, jabatan atau menumpuk kekayaan akan tetapi untuk melakukan amalan shaleh berupa ibadah yang diperintahkan Allah Ta’ala melalui lisan-lisan para Rasul yang diutusNya . Bahkan sebelum tibanya kematian itu sendiri mereka menyesal senagaimana dalam Al-Qur’an surah Al-Munafiquun ayat 10 yang artinya :

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Dan itulah bentuk penyesalan mereka, namun sekali lagi akhirat adalah tempat perhitungan dan penyesalan di waktu itu tidaklah berguna.

Dan di bawah ini saya kutipkan beberapa bentuk penyesalan yang termaktub dalam Al-Qur’an

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu (Q.S. Al-An’aam : 31)

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (Q.S. Al-An’aam:27)

Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (Q.S. Al-Kahfi: 42)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (menyesali perbuatannya) seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.”. (Q.S. Al-Furqan : 27 )

Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Asy Syu’araa’ : 102)

Dan masih banyak lagi para pembaca ….. ingat-ingatlah hal ini ……..AL-MAUT.