Mungkin semua manusia menginginkan memiliki harta yang banyak, berlimpah yang dengan harta itu apa yang ingin dia peroleh dia dapatkan. Marilah kita tengok apa yang dapat diperoleh dengan harta.

Jika diinginkan oleh pemilik harta itu dalam bentuk fisik seperti ingin mempunyai rumah mewah lengkap dengan mobil, kolam renang, taman yang indah nan sejuk dipandang bisakah ia mendapatkannya ? jawabnya ya , sebab kita berbicara tentang pemilik harta yang luar biasa hartanya..

Baiklah anggaplah ia telah memiliki semua keinginannya termasuk bepergian kemanapun ia suka. Senangkah ia? Bahagiakah ia ?  mari kita lihat ….

Ketika ia belum mempunyai mobil dan mempunyai uang untuk membeli mobil senangkah ia? Betul tentu sangat senang, maka ia pun membeli mobil. Saat mobil tiba ia sangat senang, bahagia sekali tentu saja. Namun sampai kapan ia merasakan kebahagiaan seperti itu ? Hari-hari pertama terasa senangnya ia memiliki mobil seperti mau keliling kota seharian namun apa yang terjadi selanjutnya? selanjutnya beberapa bulan ataukah beberapa hari kemudian ia akan merasa seperti biasa-biasa saja bahkan ia merasa ada kekurangan yang ada pada mobilnya itu …demikian seterusnya.  Kesenangan dan kebahagiaan itu datang dan pergi , kita sadari atau tidak. (lagi…)

Kemudahan yang diperoleh dalam kehidupan adalah dambaan manusia, kesulitan adalah hal yang tidak ingin dijumpai. Memiliki kekayaan lebih disenangi jiwa-jiwa dibandingkan kemiskinan. Dia merasa dimuliakan Tuhannya ketika rizqinya berjalan terus, kekayaan bertambah dan kemudahan-kemudahan lainya, sebaliknya ia merasakan kehinaan dan dihinakan Tuhannya ketika rizqinya dibatasi dan kesulitan-kesulitan menimpa dirinya , perhatikan firman Allah Ta’ala : (lagi…)

Bismillah.
Segala puji bagi Allah Ta’ala dan shalawat , salam semoga senantiasa tercurahkan kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Sangat disayangkan, MUI yang diharapkan memandu kaum muslimin Indonesia kejalan Allah Ta’ala dan RasulNya justru mengeluarkan fatwa yang ganjil dan aneh dan mendasari fatwanya dengan dasar yang tidak sesuai.

MUI mengharamkan rokok dengan beberapa kategori , haram untuk anak-anak, haram untuk ibu hamil …dst, padahal Hukum haram dengan beberapa kategori tidak dikenal dalam islam dari zaman dahulu orang-orang terbaik ummat ini sampai kurun waktu sekarang, jika ia haram maka haramlah bagi keseluruhannya, apakah ia bayi ataupun tua renta, sembunyi ataupun terang-terangan diperkecualikan dalam keadaan darurat ( yakni jika tidak mengkonsumsi makanan/minuman/obat tersebut maka akan mengakibatkan kematian padanya, MUI tentunya harus lebih tahu dan paham tentang makna darurat dalam hal ini ) . Makanya tidak terdapat dalam kitab-kitab para Ulama Rabbani yang memuat adanya haram berkategori.
Takutlah kepada Allah Ta’ala … jangan menukar rasa takutmu dengan takut kepada manusia lebih besar dibanding ketakutanmu kepada Allah Ta’ala , jangan tukar akhiratmu yang kekal dengan dunia yang fana . Fatwa Ulama Tentang Rokok

Berikutnya MUI berfatwa golput haram, ketahuilah bahwa pemerintah dita’ati jika mengikuti Allah dan RasulNya makanya bunyi Ayat itu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ

Athi’ullaha, wa athi’urrasul wa ulil amri minkum bukannya Athi’ullaha wa athi’urrasul wa athi’u ulil amri minkum karena ketaatan kepada pemerintah terikut kepada ketaatannya kepada Allah Ta’ala dan RasulNya karena tidak ada ketaatan kepada siapapun dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Jika pemerintah memerintahkan kita yang tidak ada pelanggaran syari’at didalamnya maka kita wajib mengikuti, sebaliknya jika perintahnya itu mengandung pelanggaran kepada Allah Ta’ala dan RasulNya maka tidak ada kewajiban untuk menaatinya.Yang ngerti bahasa Arab bisa lihat tafsir Assa’diy , tafsir Ath-Thabary. Kalau anda mau jeli maka lihatlah Substansi Pemilu itu sendiri. Apakah (lagi…)

Do’a mencakup do’a mashlahah dan do’a ibadah. Do’a Mas`alah (دعاء المسألة) inilah yang dikenal di Indonesia dengan kata Do’a yakni meminta kepada Allah Ta’ala berupa keselamatan, rizqi dan sebagainya. Sedangkan Do’a ‘Ibadah (دعاء العبادة) yakni berupa amalan-amalan, termasuk sholat, puasa , zakat dan semisal dengannya yang dengan amalan itu kita berharap kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat.

Sungguh Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berdo’a kepadaNya, simaklah firman Allah Ta’ala :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. Al-Mukmin ayat 60)

Ya.. Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berdo’a dan Allah berjanji mengabulkannya ( dalam tafsir As-Sa’diy dikatakan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan mereka berdo’a kepadaNya,do’a mas`alah dan do’a ‘ibadah), dan dalam lanjutan ayat Allah Ta’ala  ..”Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku” tidaklah Allah Ta’ala menyebut berdo’a tetapi menyembah padahal pada awal ayat disebutkan ” berdo’alah ..” yang dengan komposisi ini menegaskan bahwa Do’a adalah ibadah seutuhnya sebagaimana dalam hadits Rasulullah Ad-du’a huwa al’ibadah yang artinya:

Do’a adalah ibadah (seutuhnya)

Hal yang sering terlalaikan oleh manusia adalah berdo’a kepada Allah Ta’ala. Berdo’a dalam artian benar-benar meminta kepada Allah Ta’ala sesuatu yang menjadi kebutuhannya didunia dan di akhirat kelak. Mungkin kita sering berdo’a tapi do’a itu tak lebih dari sekedar lafadz dibibir saja tidak menghujam dalam hati, padahal bukankah jika kita meminta , kita tahu apa yang akan kita pinta dengan harapan permintaan kita dikabulkan ?

Mariah kita bersama-sama melakukan perbaikan dalam do’a kita kepada Allah.

Tulisan ini mungkin belum lengkap tapi mudah-mudahan cukup menyadarkan kita bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita berdo’a kepadaNya dengan Ikhlas dan sesuai Tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

“Manusia yang paling keras siksanya di hari kiamat nanti yaitu orang-orang yang menggambar (makhluq bernyawa)”. (HR. Al-Bukhari)

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asadi: “Maukah aku mengutus-mu dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku? (Beliau mengatakan padaku): “Janganlah engkau membiarkan gambar kecuali engkau hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan!”

Seseorang pernah datang menemui Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma. Orang itu berkata: “Aku bekerja membuat gambar-gambar ini, aku mencari penghasilan dengannya.” Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma berkata: “Mendekatlah denganku.” Orang itupun mendekati Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Mendekat lagi.” Orang itu lebih mendekat hingga Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut, lalu berkata: “Aku akan beritakan kepadamu dengan hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua tukang gambar itu di neraka. Alloh memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia). Maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”

Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma berkata kepada orang tersebut: “Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar) maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ ruh.”

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Siapa yang membuat sebuah gambar (makhluk hidup) di dunia, ia akan dibebani untuk meniupkan ruh kepada gambar tersebut pada hari kiamat, padahal ia tidak bisa meniupkannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani rohimahullohu menerangkan bahwa pembuat gambar makhluk hidup mendapatkan cercaan yang keras dengan diberi ancaman berupa hukuman yang ia tidak akan sanggup memikulnya, karena mustahil baginya untuk meniupkan ruh pada gambar-gambar yang dibuatnya. Ancaman yang seperti ini lebih mengena untuk mencegah dan menghalangi orang dari berbuat demikian serta menghentikan pelakunya agar tidak terus melakukan perbuatan tersebut. Adapun orang yang membuat gambar makhluk bernyawa karena menghalalkan perbuatan tersebut maka ia akan kekal di dalam azab. (Fathul Bari, 10/484)

Sumber : http://akhpaiman.wordpress.com/daftar-presensi/

Tentu tidak asing lagi dengan bisnis yang satu ini yaitu Bisnis Multi Level Marketing. Bisnis MLM ini cukup banyak di Indonesia baik yang dilaksanakan secara online ataupun offline ( nggak pakai internet gitu ..). Banyak juga berhasil walaupun mungkin (mungkin loh )lebih banyak yang gagal. Gagal dalam artian tidak berhasil mencapai target yang diimpi-impikan. Namun dari keberhasilan dan kegagalan para pebisnis MLM ini banyak orang yang mempertanyakan mengenai hukum berbisnis dengan cara ini. Kemarin tgl 11 Desember 2008 saya membeli sebuah majalah yang membahas tentang Hukum Berbisnis dengan MLM ini.

Berikut Petikan Isi dari Majalah Tersebut (lagi…)

Bagi anda yang ingin menulis Al-Qur’an di Word dapat mendownload program Qur’an yang akan memudahkan anda untuk menampilkan tulisan ayat-ayat Qur’an disini

[Print View] [kirim ke Teman]
Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin

Perlu dipahami bahwa berqurban tidaklah sah kecuali dengan hewan ternak yaitu unta, sapi, atau kambing. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ اْلأَنْعَامِ
“Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (Al-Hajj: 28)
Juga firman-Nya:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيْمَةِ اْلأَنْعَامِ
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34)
Dan yang paling afdhal menurut jumhur ulama adalah unta (untuk satu orang), kemudian sapi (untuk satu orang), lalu kambing (domba lebih utama daripada kambing jawa), lalu berserikat pada seekor unta, lalu berserikat pada seekor sapi. Alasan mereka adalah:
1. Unta lebih besar daripada sapi, dan sapi lebih besar daripada kambing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
2. Unta dan sapi menyamai 7 ekor kambing.
3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً
“Barangsiapa yang mandi Jum’at seperti mandi janabat kemudian berangkat, maka seolah dia mempersembahkan unta. Barangsiapa yang berangkat pada waktu kedua, seolah mempersembahkan sapi, yang berangkat pada waktu ketiga seakan mempersembahkan kambing bertanduk, yang berangkat pada waktu keempat seakan mempersembahkan ayam, dan yang berangkat pada waktu kelima seakan mempersembahkan sebutir telur.” (HR. Al-Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)
Adapun hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan kambing kibasy, yang berarti dinilai lebih afdhal karena merupakan pilihan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dijawab: (lagi…)

Sebelum membahas mengenai RUU Pornografi ada baiknya kita membaca firman Allah Ta’ala berikut :

َاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُون

Dan Ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S. Al-Hujurat : 7)

Diantara para shahabat Rasulullah ada yang melihat bagaimana ibadah-ibadah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas bin Malik ia berkata, ”Datanglah tiga golongan yang mendatangi rumah isteri-isteri Rasulullah secara diam-diam dan menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberikan lalu mereka membicarakannya dan berkata di mana posisi kita dibanding dengan Rasulullah padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Salah satu di antara mereka berkata,”Saya akan selalu shalat malam terus menerus.”Yang lain berkata,”Saya akan berpuasa terus menerus sepanjang tahun.”dan yang lain lagi berkata,”Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya berkata, ”Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Ketahuilah demi Allah sesungguhnya sayalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepadaNya tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur serta menikah wanita..!. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan golonganku”.

Sekiranya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan mereka tentu mereka akan mendapatkan kesusahan dalam melaksanakan apa yang mereka inginkan. Dan para shahabatpun tidak merasa berat dengan ini. Kenapa demikian ? jawabannya (lagi…)

(Q.S. Ash-Shaffaat : 39-68)

39. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang Telah kamu kerjakan,

40. Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

Sebagian kenikmatan Surga

41. Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu,

42. Yaitu buah-buahan. dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,

43. Di dalam syurga-syurga yang penuh nikmat.

44. Di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.

45. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.

46. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.

47. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.

48. Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,

49. Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.

50. Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.

51. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya Aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,

52. Yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?

53. Apakah bila kita Telah mati dan kita Telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah Sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

54. Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”

55. Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.

56. Ia Berkata (pula): “Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,

57. Jikalau tidaklah Karena nikmat Tuhanku Pastilah Aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

58. Maka apakah kita tidak akan mati?,

59. Melainkan Hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?

60. Sesungguhnya Ini benar-benar kemenangan yang besar.

61. Untuk kemenangan serupa Ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

62. (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum[1277].

Sebagian Kesengsaraan di Neraka

63. Sesungguhnya kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.

64. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.

65. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.

66. Maka Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, Maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.

67. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.

68. Kemudian Sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.

[1277] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka.

Demikianlah Allah Ta’ala menerangkan keadaan penghuni surga dan neraka, maka barang siapa yang beriman terhadap hari berbangkit, tentang adanya hari pembalasan terhadap segala amal perbuatan manusia, maka hendaklah menyiapkan bekal untuk itu. Apa yang dikisahkan Allah Ta’ala diatas pasti terjadi , ia bukanlah fiksi atau cerita dongeng belaka , adakah yang meragukannya ? kisah diatas tertulis dalam Al-Qur’an adakah yang meragukan ? adakah yang samar dari keterangan diatas ? wahai hati yang dipenuhi oleh segala keinginan dunia , tidakkah engkau meminta dirimu untuk menangis bahwa bekalmu diakhirat belum kamu kumpulkan, apakah engkau melihat saudaramu telah ada yang menaiki tunggangannya dan mengikat tali bekalnya untuk mengumpulkan bekal ataukah engkau tidak melihatnya ? tidakkah engkau juga mengetahui saudaramu yang lain telah pergi dengan membawa bekalnya masing-masing ? ataukah memang engkau tidak peduli dengan kepergian mereka ? tidak menanyakan kenapa mereka pergi ? mereka pergi karena mengetahui adanya tempat yang lebih baik dari tempat yang kamu pijak , mereka tahu rintangan akan menghadang di perjalanan mereka tapi satu yang mereka yakini yaitu sekalipun mereka tertimpa kematian ditengah perjalanan mereka karena beratnya rintangan diperjalanan, mereka yakin akan sampai ke tempat tujuan mereka karena itu adalah janji Penguasa tempat yang mereka tuju . Penguasa Negeri Akhirat. Apakah belum sampai kabar ini kepadamu ?

Halaman Berikutnya »